Sunday, May 11, 2014

Kisah Hidup Seorang Pengidap Kanker (Nenek Tercinta)

Kisah Hidup Seorang Pengidap Kanker


Saya ingin bercerita tentang salah satu orang yang sangat berdampak dan berarti dalam hidup saya. Bagi saya, beliau adalah orang yang baik, sangat perhatian, murah senyum, dan cinta Tuhan. Beliau adalah nenek saya, ibunda dari ayah saya. Beliau sering bercerita tentang pengalaman hidupnya kepada saya, hingga ceritanya tersebut membuat saya terharu dan merasa bangga memiliki seorang nenek seperti beliau. Hal yang ingin saya bagikan kepada pembaca sekalian adalah tentang bagaimana Beliau menghadapi tantangan hidup yang beliau alami. Selamat membaca .. 

Lahir di Manggar, Bangka Belitung pada tanggal 19 April 1940, bernama Liau Li Ping, biasa dipanggil Li Ping. Li Ping adalah anak perempuan satu-satunya dari 5 bersaudara dan ia merupakan kakak dari keempat adik laki-lakinya. Ia dilahirkan dengan kondisi ekonomi keluarga yang sulit. Ayahnya sendiri pergi merantau ke Pulau Riau sebagai tukang bangunan, sedangkan sehari-hari Ibunya menjadi pedagang kue keliling. Li Ping sebagai kakak harus membantu Ibunya membuat kue setiap harinya dan berjualan kue. Berbeda dengan nasib anak-anak lain yang sebaya dengan Li Ping, ia harus bangun lebih pagi untuk membuat kue, dan berjualan kue sebelum berangkat ke sekolah. Terkadang ia terlambat masuk sekolah karena ia harus menjual habis seluruh dagangannya. Namun, atas pengertian guru dan pihak sekolah mereka menolerir keterlambatan Li Ping. Sepulang sekolah, Li Ping tidak bisa bermain seperti anak-anak lainnya. Ia harus segera pulang, lalu menjaga adik-adiknya yang masih kecil, membantu membersihkan rumah, memasak, dan lain-lain. Keseharian nya seperti itu membuat Li Ping bertumbuh menjadi seseorang yang tangguh, mandiri, kuat, dan cinta Tuhan.  Li Ping, yang dulunya bukan orang percaya, menjadi percaya kepada Tuhan karena ia sempat tinggal bersama tante nya yang percaya Tuhan dan rajin ke gereja. Tantenya adalah seseorang yang sangat menyayangi dan memotivasi Li Ping dalam sekolah maupun mencari uang. Berkat teladan sang tante, Li Ping mulai mau ikut untuk ke gereja, dan akhirnya dia mulai mengenal Tuhan, dan tidak sampai satu tahun, dia menerima Tuhan sebagai Juruselamat pribadinya dan akhirnya di Baptis. Berkat Li Ping pun, adik-adiknya menjadi percaya sama Tuhan, sampai akhirnya keturunan Li Ping dan keturunan adik-adiknya semua juga menjadi orang percaya.

Li Ping akhirnya pun menikah dengan seorang pria yang tidak lain adalah almarhum kakek saya sendiri, Qiu Qin Kui pada ia berumur 19 tahun. Dan mereka diberkahi 4 orang anak, 3 perempuan dan 1 laki-laki. Kesulitan ekonomi waktu itu mau tidak mau membuat Li Ping terus berjuang, dan mendukung suami nya untuk mencari sesuap nasi. Dengan berjualan kue pun, mereka berhasil melewati hari-hari mereka.
Singkat cerita, anak-anaknya bertumbuh menjadi orang dewasa yang menyayangi beliau. Pada umur 43 tahun, Li Ping tervonis kanker payudara ganas. Gejala yang ia alami sebelumnya berupa benjolan di atas payudara kirinya, sering jatuh sakit, dan sering mengalami demam. Gejala-gejala yang ia alami membuat ia dibiopsi di salah satu Rumah Sakit di Jakarta, yakni RS.Pertamina. Hasilnya membuat hidupnya sekali lagi mengalami tantangan yang luar biasa.
 
Beberapa kali ia harus menjalani chemotherapy yang sempat membuat ia botak dan berbagai macam cara pengobatan lain yang harus ia jalani. Li Ping juga telah menjalani operasi sebanyak 4 kali.  Berbagai macam obat-obatan tradisional, baik ramuan rempah-rempahan atau pun binatang sudah ia cicipi. Ia sempat bercerita dan mengaku bahwa ia mau tidak mau harus memakan cicak yang sudah dibersihkan (mata yg dicongkel, cakar nya dibuang, dan perut dibersihkan) oleh sang suami tercinta, yang kemudian di cincang dan dimasukan ke dalam kapsul lalu disimpan didalam freezer. Ia bahkan tak menyangka ia harus makan kelabang yang dipanggang, ditumbuk, lalu dimasukan ke dalam kapsul. Semua memakan biaya yang cukup besar untuk pengobatannya. Namun, ia berserah kepada Tuhan atas hidupnya. Bahkan trus menjalani hidupnya dengan senyuman dan ketabahan yang luar biasa. 

Berkat komunitas kanker dan dukungan dari keluarga maupun teman-temannya, Li Ping tidak putus asa menjalani hari-harinya. Bahkan ia sudah divonis dokter bahwa hidupnya tidak lama lagi. Suatu saat Li Ping berdoa kepada Tuhan sambil berlutut di gereja sebelum ibadah dimulai dan masih sepi, bahwa ia menyerahkan seluruh hidupnya kedalam tangan Tuhan, apapun yang akan terjadi, Li Ping berserah. Ia tidak meminta Tuhan agar menyembuhkannya cepat-cepat. Tapi kalau Tuhan mau, pasti ia sembuh.  Sambil menitikkan air mata, ia merasa mendengar suara Tuhan yang berbisik : “Anakku kamu pasti sembuh, tapi bukan sekarang waktunya”. Sejak saat itu, Li Ping percaya Tuhan punya rencana dibalik penyakit yang ia alami.

Kesehariannya tak ia biarkan hanya berbaring di atas ranjang. Ia bersama saudara-saudara seimannya pergi melayani dengan mengunjungi orang-orang sakit, mendoakan mereka, dan bersaksi. Ditengah-tengah penyakit ganas yang ia alami, ia malah memotivasi orang, mendoakan orang lain yang sakit bahkan menceritakan kebaikan Tuhan kepada mereka yang merasa tidak punya harapan lagi. Ia mengatakan bahwa biar kita hidup di dunia sementara, tapi kita punya harapan untuk hidup yang kekal di surga nanti. Banyak orang yang diberkati lewat kesaksiannya. Hingga suatu ketika, Ia sempat memberikan kesaksian di sebuah KKR  di puncak, yang dihadiri oleh orang-orang Singapura terharu mendengar kesaksiannya. Salah seorang dari mereka yang merupakan penulis terkenal, mengaku bahwa ia sangat terharu dan merasa menyesal karena tidak pernah bersaksi tentang Tuhan, padahal ia sudah lama mengenal Tuhan.

Li Ping katakan, hal yang membuat ia bertahan adalah janji-janji Tuhan. Salah satu firmanNya berkata bahwa : “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang” (Ams 17:22). Hingga sekarang, Li Ping ditambahkan bonus umur 32 tahun. Betapa bersyukur dan sungguh tak diduga nya. Li Ping menjalani hidup bersama suaminya selama 55 tahun, hingga tahun lalu, suaminya berpulang kerumah Bapa dengan kondisi sehat-sehat saja. Li Ping bahkan sekarang memiliki 11 cucu, dan 8 cicit yang ia sangat sayangi dan dambakan. Tak pernah lepas doa doanya untuk cucu dan cicit-cicitnya, bahkan untuk orang-orang lain. Pelayanan doa dan kesaksiannya hingga saat ini tidak pernah berhenti. Kini ia berusia 74 tahun. Namun ia masih terlihat awet muda, dengan senyuman diwajahnya.

Belajar dari cerita kehidupan Li Ping yang tidak pernah putus asa dan menyerahkan seluruh hidupnya ke dalam tangan Tuhan.  Melayani bukan hanya disaat sehat, tapi bahkan disaat sakit pun kita bisa bersaksi, bisa melayani. Li Ping merupakan cerminan yang perlu kita teladani, lewat senyumannya ia membagi berkat dan penghiburan bagi banyak orang.

Saya pribadi, sungguh tergugah oleh cerita hidupnya, dan banyak belajar dari pengalaman hidup beliau.

Salah satu hal yang membuat saya kagum adalah karena beliau memiliki daya ingat yang kuat, cerita diatas saya tulis setelah saya melakukan wawancara dengan beliau, walau saya sering mendengar cerita nya, namun saya tidak mungkin mengingatnya secara detail, akhirnya mau ga mau saya harus mewawancarai beliau. Tak disangka, di usia nya yang udah lanjut ini, ia masih mampu menghafal kejadian-kejadian di masa lalunya, bahkan waktu-waktu kejadian nya ia hafal persis. Luar biasa sekali punya nenek seperti beliau. Harapan saya, semoga cerita pengalamannya memberkati dan menggugah pembaca sekalian :)

Foto saya bersama dengan beliau imlek tahun 2014 lalu :