Kisah Hidup Seorang Pengidap Kanker
Saya ingin bercerita tentang
salah satu orang yang sangat berdampak dan berarti dalam hidup saya. Bagi saya,
beliau adalah orang yang baik, sangat perhatian, murah senyum, dan cinta Tuhan.
Beliau adalah nenek saya, ibunda dari ayah saya. Beliau sering bercerita
tentang pengalaman hidupnya kepada saya, hingga ceritanya tersebut membuat saya
terharu dan merasa bangga memiliki seorang nenek seperti beliau. Hal yang ingin
saya bagikan kepada pembaca sekalian adalah tentang bagaimana Beliau menghadapi
tantangan hidup yang beliau alami. Selamat membaca ..
Lahir di Manggar, Bangka Belitung
pada tanggal 19 April 1940, bernama Liau Li Ping, biasa dipanggil Li Ping. Li
Ping adalah anak perempuan satu-satunya dari 5 bersaudara dan ia merupakan
kakak dari keempat adik laki-lakinya. Ia dilahirkan dengan kondisi ekonomi
keluarga yang sulit. Ayahnya sendiri pergi merantau ke Pulau Riau sebagai
tukang bangunan, sedangkan sehari-hari Ibunya menjadi pedagang kue keliling. Li
Ping sebagai kakak harus membantu Ibunya membuat kue setiap harinya dan
berjualan kue. Berbeda dengan nasib anak-anak lain yang sebaya dengan Li Ping,
ia harus bangun lebih pagi untuk membuat kue, dan berjualan kue sebelum
berangkat ke sekolah. Terkadang ia terlambat masuk sekolah karena ia harus
menjual habis seluruh dagangannya. Namun, atas pengertian guru dan pihak
sekolah mereka menolerir keterlambatan Li Ping. Sepulang sekolah, Li Ping tidak
bisa bermain seperti anak-anak lainnya. Ia harus segera pulang, lalu menjaga
adik-adiknya yang masih kecil, membantu membersihkan rumah, memasak, dan
lain-lain. Keseharian nya seperti itu membuat Li Ping bertumbuh menjadi
seseorang yang tangguh, mandiri, kuat, dan cinta Tuhan. Li Ping, yang dulunya bukan orang percaya,
menjadi percaya kepada Tuhan karena ia sempat tinggal bersama tante nya yang
percaya Tuhan dan rajin ke gereja. Tantenya adalah seseorang yang sangat
menyayangi dan memotivasi Li Ping dalam sekolah maupun mencari uang. Berkat
teladan sang tante, Li Ping mulai mau ikut untuk ke gereja, dan akhirnya dia
mulai mengenal Tuhan, dan tidak sampai satu tahun, dia menerima Tuhan sebagai
Juruselamat pribadinya dan akhirnya di Baptis. Berkat Li Ping pun, adik-adiknya
menjadi percaya sama Tuhan, sampai akhirnya keturunan Li Ping dan keturunan
adik-adiknya semua juga menjadi orang percaya.
Li Ping akhirnya pun menikah
dengan seorang pria yang tidak lain adalah almarhum kakek saya sendiri, Qiu Qin
Kui pada ia berumur 19 tahun. Dan mereka diberkahi 4 orang anak, 3 perempuan
dan 1 laki-laki. Kesulitan ekonomi waktu itu mau tidak mau membuat Li Ping
terus berjuang, dan mendukung suami nya untuk mencari sesuap nasi. Dengan
berjualan kue pun, mereka berhasil melewati hari-hari mereka.
Singkat cerita, anak-anaknya bertumbuh
menjadi orang dewasa yang menyayangi beliau. Pada umur 43 tahun, Li Ping
tervonis kanker payudara ganas. Gejala yang ia alami sebelumnya berupa benjolan
di atas payudara kirinya, sering jatuh sakit, dan sering mengalami demam.
Gejala-gejala yang ia alami membuat ia dibiopsi di salah satu Rumah Sakit di
Jakarta, yakni RS.Pertamina. Hasilnya membuat hidupnya sekali lagi mengalami
tantangan yang luar biasa.
Beberapa kali ia harus menjalani chemotherapy yang sempat membuat ia
botak dan berbagai macam cara pengobatan lain yang harus ia jalani. Li Ping
juga telah menjalani operasi sebanyak 4 kali.
Berbagai macam obat-obatan tradisional, baik ramuan rempah-rempahan atau
pun binatang sudah ia cicipi. Ia sempat bercerita dan mengaku bahwa ia mau
tidak mau harus memakan cicak yang sudah dibersihkan (mata yg dicongkel, cakar
nya dibuang, dan perut dibersihkan) oleh sang suami tercinta, yang kemudian di
cincang dan dimasukan ke dalam kapsul lalu disimpan didalam freezer. Ia bahkan
tak menyangka ia harus makan kelabang yang dipanggang, ditumbuk, lalu dimasukan
ke dalam kapsul. Semua memakan biaya yang cukup besar untuk pengobatannya.
Namun, ia berserah kepada Tuhan atas hidupnya. Bahkan trus menjalani hidupnya dengan
senyuman dan ketabahan yang luar biasa.
Berkat komunitas kanker dan
dukungan dari keluarga maupun teman-temannya, Li Ping tidak putus asa menjalani
hari-harinya. Bahkan ia sudah divonis dokter bahwa hidupnya tidak lama lagi. Suatu
saat Li Ping berdoa kepada Tuhan sambil berlutut di gereja sebelum ibadah
dimulai dan masih sepi, bahwa ia menyerahkan seluruh hidupnya kedalam tangan
Tuhan, apapun yang akan terjadi, Li Ping berserah. Ia tidak meminta Tuhan agar
menyembuhkannya cepat-cepat. Tapi kalau Tuhan mau, pasti ia sembuh. Sambil menitikkan air mata, ia merasa
mendengar suara Tuhan yang berbisik : “Anakku kamu pasti sembuh, tapi bukan
sekarang waktunya”. Sejak saat itu, Li Ping percaya Tuhan punya rencana dibalik
penyakit yang ia alami.
Kesehariannya tak ia biarkan
hanya berbaring di atas ranjang. Ia bersama saudara-saudara seimannya pergi
melayani dengan mengunjungi orang-orang sakit, mendoakan mereka, dan bersaksi.
Ditengah-tengah penyakit ganas yang ia alami, ia malah memotivasi orang,
mendoakan orang lain yang sakit bahkan menceritakan kebaikan Tuhan kepada
mereka yang merasa tidak punya harapan lagi. Ia mengatakan bahwa biar kita
hidup di dunia sementara, tapi kita punya harapan untuk hidup yang kekal di
surga nanti. Banyak orang yang diberkati lewat kesaksiannya. Hingga suatu
ketika, Ia sempat memberikan kesaksian di sebuah KKR di puncak, yang dihadiri oleh orang-orang
Singapura terharu mendengar kesaksiannya. Salah seorang dari mereka yang
merupakan penulis terkenal, mengaku bahwa ia sangat terharu dan merasa menyesal
karena tidak pernah bersaksi tentang Tuhan, padahal ia sudah lama mengenal
Tuhan.
Li Ping katakan, hal yang membuat
ia bertahan adalah janji-janji Tuhan. Salah satu firmanNya berkata bahwa :
“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah
mengeringkan tulang” (Ams 17:22). Hingga sekarang, Li Ping ditambahkan bonus
umur 32 tahun. Betapa bersyukur dan sungguh tak diduga nya. Li Ping menjalani
hidup bersama suaminya selama 55 tahun, hingga tahun lalu, suaminya berpulang
kerumah Bapa dengan kondisi sehat-sehat saja. Li Ping bahkan sekarang memiliki
11 cucu, dan 8 cicit yang ia sangat sayangi dan dambakan. Tak pernah lepas doa
doanya untuk cucu dan cicit-cicitnya, bahkan untuk orang-orang lain. Pelayanan
doa dan kesaksiannya hingga saat ini tidak pernah berhenti. Kini ia berusia 74
tahun. Namun ia masih terlihat awet muda, dengan senyuman diwajahnya.
Belajar dari cerita kehidupan Li
Ping yang tidak pernah putus asa dan menyerahkan seluruh hidupnya ke dalam
tangan Tuhan. Melayani bukan hanya
disaat sehat, tapi bahkan disaat sakit pun kita bisa bersaksi, bisa melayani.
Li Ping merupakan cerminan yang perlu kita teladani, lewat senyumannya ia
membagi berkat dan penghiburan bagi banyak orang.
Saya pribadi, sungguh tergugah
oleh cerita hidupnya, dan banyak belajar dari pengalaman hidup beliau.
Salah satu hal yang membuat saya
kagum adalah karena beliau memiliki daya ingat yang kuat, cerita diatas saya
tulis setelah saya melakukan wawancara dengan beliau, walau saya sering
mendengar cerita nya, namun saya tidak mungkin mengingatnya secara detail,
akhirnya mau ga mau saya harus mewawancarai beliau. Tak disangka, di usia nya
yang udah lanjut ini, ia masih mampu menghafal kejadian-kejadian di masa
lalunya, bahkan waktu-waktu kejadian nya ia hafal persis. Luar biasa sekali
punya nenek seperti beliau. Harapan saya,
semoga cerita pengalamannya memberkati dan menggugah pembaca sekalian :)
Foto saya bersama dengan beliau imlek tahun 2014 lalu :
